“Izinkan Aku Mencintaimu Walau Aku Liberal”: Ketika Filsafat dan Cinta Tdk Lagi Berjarak (Sebuah Novelet Filsafat Part II)
Pukul 18.20 setelah shalat Maghrib, sekretariat FMM yang berada di Student Centre UIN Jakarta sudah ramai dihadiri seluruh aktivis muslim. Mereka hari ini berencana menyambangi sekretariat BEM Ushuluddin setelah nota protes yang dilayangkan ke Arisiska tak kunjung dibalas. FMM sudah kepalang terendam amarah. Hari ini Arisiska harus segera ditemukan: “Hidup atau mati”. Hannah Arendt dari Ciputat yang kalau sudah bicara suka nyelekit. Menstigma kader-kader Forum Mahasiswa Muslim UIN adalah Antitesis Peradaban yang lebih cocok tinggal di Arab ketimbang menganggu keutuhan Pancasila di Indonesia. “Belum belajar Filsafat Sejarah Hegel dan Dekontruksi Derrida. Terlalu taklid dengan Imam Syafi’i. Orang-orang kaya Jaka itu nanti di neraka bingung. Ia bertanya-tanya kepada Tuhan, kenapa ia masuk neraka, sedangkan Bunda Theresa masuk Surga.” “Hahahaha,” tawa terbahak-bahak kawan satu diskusinya. Arisiska memang selain terkenal pintar dan cantik, juga terampil melucu. “Lalu apa kata Tuhan, Sis?”...