Sebongkah harapan bocah Palestina..

Langkah kaki mungil berlarian mengejar tujuan, tubuhnya yang bergontai lusuh memenuhi medan perjuangan kiblat pertama umat Islam,segenggam tekad dan kerikil memenuhi celah jari-jari mereka, syahid adalah kebahagiaan hidup bagi mereka, peperangan merupakan perjalanan utama mereka hanya iman yang kuat senantiasa menemani. Bayangkan bila kita, adik-adik kita atau bahkan orang tua kita merasakan langsung medan jihad tersebut. Bagaimana dengan harapan kita??

Masa kanak-kanak merupakan masa terindah dimana kita mendapatkan perhatian lebih dan pengawasan ketat dari orang tua, nutrisi yang cukup, pendidikan yang baik dan permainan-permainan yang menyenangkan. Bila kita amati anak-anak senang sekali dengan canda tawa, dengan mainan yang unik, betapa bahagia masa kanak-kanak. Namun, semua itu tidak terjadi di Palestina yang merupakan kiblat pertama kita yaitu Al-Aqsa tercinta sebelum ka'bah. Setiap anak punya harapan, punya banyak keinginan yang harus dipenuhi, karena ketidakbahagiaan sekecil apapun pada masa anak-anak akan berpengaruh pada masa dewasa. Namun, coba kita bayangkan bagaimana nasib anak-anak Palestina. Balita, bahkan bayi sekalipun sudah menjadi korban kebiadaban Israel. Bayi-bayi yang terburai ususnya, balita yang runtuh kekuatan inderanya karena terkena sasaran peluru zionis Jahannam. Bila di Indonesia, permainan musik klasik, lagu anak-anak yang tiap hari disenandungkan di telinga anak menjadi makanan sehari-hari untuk merangsang kecerdasan anak.,namun di Palestina sana dentuman peluru, teriakan takbir, bahkan ledakan bom menjadi sebuah kenyataan yang harus menemani mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dimana hati Israel tersebut?? Yahudi Laknatullah memang sebutan yang pantas untuk mereka, karena anak-anak kecil tak berdosa turut menjadi incaran mereka. Padahal anak-anak Palestina merupakan cikal bakal mujahid yang akan meneruskan pergerakan dakwah disana. Hal tersebut bukanlah menjadi masalah bagi anak-anak Palestina yang pemberani. Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Padahal semua anak itu sama menginginkan sebuah kasih sayang, pengawasan yang baik, perhatian yang lebih. Apa kita juga tega melihat mereka seperti itu, yang hanya menanti sebuah harapan yang tak kunjung datang.
Bagi anak-anak pemberani di Palestina, syahid adalah tujan hidup mereka, tak peduli marabahaya walaupun peluru serdadu Israel siap menghancurkan tubuh mereka. Dikutip dari sebuah Webster : Sekitar 300 anak Palestina berusia antara lima hingga delapan tahun berkumpul di kantor Komite Palang Merah Internasional di Tyre, Lebanon Selatan. Mereka duduk di halaman itu sambil membawa sejumlah poster dan spanduk yang bernada marah. Bayangin Brur, mereka semuanya masih anak-anak, tapi pikirannya sudah ‘dewasa’. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya. Dan mereka ternyata bukan cuma duduk-duduk doang Non, tapi juga ‘bersuara’ lewat spanduk yang mereka buat, seperti dikutip oleh Republika, 5 Oktober 2000 lalu. “Kami semua adalah saudara syuhada Mohammad al-Durra.” Lalu dalam spanduk lain berbunyi, “Israel telah membantai anak-anak Palestina.” Brur, ternyata bukan cuma itu yang dilakukan anak-anak Palestina yang gagah berani ini. Para bocah yang berasal dari tiga tempat kamp pengungsi di Tyre itu bak orang dewasa saja. Mereka juga membawa sejumlah plakat yang bisa menggelorakan semangatnya.“Berjuang dan angkat senjata, satu-satunya jalan untuk membebaskan tanah Palestina.” “Palestina bertanggungjawab terhadap semua yang ada pada kami,” bunyi lainnya.Teman-teman remaja, dua hal yang bisa menganggap rintangan sebagai tantangan adalah semangat dan keberanian. Tentu keberanian yang berhasil dimunculkan dari akidah yang benar. Akidah Islam yang kuat dan bersih. Dan sekarang ‘kebetulan’ banyak dimiliki anak-anak Palestina.

“Saya ingin membunuh orang Israel seperti mereka membunuh saudara kami Mohammad al-Durra,” kata Mohammad Natour, 14 tahun. Heroik memang. Terlepas dari sikap emosional anak-anak, tapi yang pasti itulah kenyataannya.

Belum lagi semangatnya Khaled Hamad, 11 tahun, yang membalur lumpur di wajahnya dan mengangkat bendera Palestina lalu mengatakan, “Jika bisa menembak Israel, saya tidak ragu-ragu lagi.” Hebat. Lalu, Brur, masih ada anak yang mampu melihat dengan mata hati dan pikirannya, seperti Ihab al-Sadid, anak berumur 12 tahun ini sangat kesal dengan aksi brutalnya tentara Israel yang menembaki anak-anak Palestina, ia mengatakan, “Mereka membunuh anak-anak. Sebab, mereka takut kalau nanti besar dan akan melawannya.” Tuh, anak seumuran SD saja sudah bisa berpikir jauh ke depan. Tentu pikiran seperti itu nggak muncul begitu saja, tapi ada proses. Siapa tahu, memang anak-anak itu dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pejuang Islam yang gagah berani. Masih nggak percaya? Coba kamu simak pernyataan Ridha Saleh, anak berumur 13 tahun, dengan mengenakan seragam militer, dan meminta wartawan foto untuk mengambil gambarnya. Ia mengatakan, “Saya juga ingin mati syahid, dan hanya ingin mati di sana.
29 Dzulhidzah tepatnya tanggal 27 Desember 2008 merupakan puncak peperangan bagi Palestina dan Israel. Didaerah Jabaliya banyak anak-anak menjadi korban kebiadaban Israel. Ada Keluarga yang memilki 13 anak namun yang tersisa hanya 5 anak, yang lainnya sudah menjadi korban kebiadaban Israel. Apakah kita sebagai bangsa yang notabene umat Islam terbanyak tega, cikal bakal mujahid kita diporak porandakan oleh Israel? Mari kita belajar dari keberanian anak-anak Palestina yang sampai saat ini masih terus berjuang. Bayangkan, apakah kita berani seperti mereka yang melemparkan lumpur tepat sasaran di muka zionis Israel. Mereka melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan. Sedangkan kita, yangn hanya berpanas-panas di lapangan melakukan AKSI terkadang masih suka mengeluh. BERSYUKURLAH KARENA ALLAH MENGANUGERAHI KITA NEGERI YANG AMAN, SEHINGGA KITA BEBAS MENUNTUT ILMU DENGAN TENANG, BERMAIN DENGAN GEMBIRA DAN MELAKUKAN SEGALA HAL DENGAN AMAN. Manfaatkanlah dengan baik segala hal yang telah Allah berikan, persipakan jiwa kita, ilmu kita, harta bahkan darah kita untuk keselamatan dan kebahagian saudara kita sedunia. Karena kita dengan umat islam lainnya adalah satu tubuh. Bila bocah Palestina disana mersakan pahitnya perjuangan, kitapun disini merasakannya. Allahu Akbar!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKELUMIT KISAH MAHASISWI JURUSAN TERTINGGAL “PGTK UNJ”

Game Level 2 Melatih Kemandirian Day 1

Game Level 3 Melatih Kecerdasan Anak Day 2